LAPORAN AKHIR DEMO PROJECT
PROTOTYPE SISTEM KENYAMANAN TERMAL
SEBAGAI MEDIA EDUKASI BAGI MASYARAKAT HUNTARA PASCA BENCANA BERBASIS STM32 BLUE
PILL
1. Pendahuluan [Kembali]
Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, maupun letusan gunung berapi sering kali mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan memaksa masyarakat untuk tinggal sementara di Hunian Sementara (Huntara). Dalam kondisi pasca bencana, aspek kenyamanan lingkungan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kesehatan, produktivitas, dan kualitas hidup masyarakat. Salah satu aspek yang sangat berpengaruh adalah kenyamanan termal, yaitu kondisi lingkungan yang memberikan rasa nyaman terhadap suhu, kelembapan, kualitas udara, dan pencahayaan di dalam ruangan. Namun, kondisi Huntara yang umumnya dibangun secara cepat dan sederhana sering kali memiliki ventilasi yang terbatas, suhu yang tinggi pada siang hari, kelembapan yang tidak stabil, serta kualitas udara yang kurang baik akibat aktivitas penghuni maupun lingkungan sekitar.
Pemantauan kondisi lingkungan di Huntara pada umumnya masih dilakukan secara manual dan bergantung pada persepsi masing-masing penghuni. Cara ini memiliki berbagai keterbatasan karena tidak mampu memberikan informasi yang akurat dan berkelanjutan mengenai kondisi suhu, kelembapan, kualitas udara, maupun pencahayaan ruangan. Akibatnya, penghuni sering kali baru menyadari adanya kondisi lingkungan yang tidak nyaman ketika dampaknya sudah dirasakan, seperti rasa gerah, sesak akibat kualitas udara yang buruk, atau gangguan kenyamanan saat beraktivitas maupun beristirahat.
Seiring perkembangan teknologi elektronika dan sistem embedded, berbagai sensor lingkungan kini dapat digunakan untuk melakukan pemantauan kondisi ruangan secara otomatis dan real-time. Teknologi tersebut memungkinkan pengukuran parameter lingkungan secara lebih akurat sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam meningkatkan kenyamanan penghuni. Selain itu, penerapan teknologi sensor juga dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk memahami pentingnya menjaga kualitas lingkungan tempat tinggal, terutama dalam kondisi pasca bencana yang membutuhkan perhatian khusus terhadap kesehatan dan kenyamanan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, dirancang sebuah Prototype Sistem Kenyamanan Termal Sebagai Media Edukasi Bagi Masyarakat Huntara Pasca Bencana Berbasis STM32 Blue Pill. Sistem ini memanfaatkan mikrokontroler STM32 Blue Pill sebagai pusat kendali yang terintegrasi dengan beberapa sensor, yaitu sensor suhu dan kelembapan DHT11/DHT22 untuk memantau kondisi termal ruangan, sensor kualitas udara MQ-135 untuk mendeteksi tingkat pencemaran udara dan keberadaan gas tertentu, serta sensor LDR untuk mengukur intensitas cahaya lingkungan. Data yang diperoleh dari sensor kemudian diolah oleh STM32 Blue Pill dan ditampilkan melalui layar OLED sebagai media informasi yang mudah dipahami oleh pengguna.
Selain memberikan informasi kondisi lingkungan secara real-time, sistem ini juga dilengkapi dengan beberapa perangkat keluaran sebagai indikator dan aktuator otomatis. LED hijau, kuning, dan merah digunakan untuk menunjukkan tingkat kenyamanan suhu ruangan, sedangkan buzzer berfungsi sebagai alarm peringatan ketika kondisi lingkungan berada pada kategori yang tidak aman. Untuk meningkatkan sirkulasi udara, sistem mengendalikan exhaust fan melalui relay yang akan aktif secara otomatis ketika suhu atau kualitas udara melebihi batas yang telah ditentukan. Sensor LDR juga digunakan untuk mengoptimalkan tampilan sistem berdasarkan kondisi pencahayaan lingkungan sehingga penggunaan energi menjadi lebih efisien.
Dibandingkan dengan metode pemantauan lingkungan secara konvensional yang hanya mengandalkan pengamatan manusia, sistem ini menawarkan kemampuan monitoring yang lebih akurat, berkelanjutan, dan responsif terhadap perubahan kondisi lingkungan. Integrasi berbagai sensor memungkinkan sistem memberikan informasi yang lebih komprehensif mengenai kenyamanan termal di dalam Huntara sekaligus melakukan tindakan otomatis untuk membantu menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi penghuninya.
Melalui pengembangan prototype ini, diharapkan masyarakat Huntara pasca bencana tidak hanya memperoleh manfaat berupa peningkatan kenyamanan lingkungan tempat tinggal, tetapi juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menjaga suhu, kelembapan, kualitas udara, dan pencahayaan yang sehat. Dengan demikian, sistem ini dapat menjadi media pembelajaran sekaligus solusi teknologi sederhana yang mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat dalam masa pemulihan pasca bencana.
A. Meningkatkan Kenyamanan Termal di Lingkungan Huntara
Mengembangkan prototype sistem kenyamanan termal yang mampu memantau kondisi suhu, kelembapan, kualitas udara, dan intensitas cahaya secara real-time sehingga dapat membantu menciptakan lingkungan Huntara yang lebih nyaman dan sehat bagi masyarakat pasca bencana.
B. Mengotomatisasi Pengendalian Lingkungan Ruangan
Merancang sistem berbasis STM32 Blue Pill yang bekerja secara otomatis dalam mengendalikan perangkat keluaran seperti exhaust fan, LED indikator, dan buzzer berdasarkan data yang diperoleh dari sensor, sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pengawasan dan pengendalian secara manual.
C. Memberikan Informasi dan Peringatan Secara Cepat dan Mudah Dipahami
Menyediakan tampilan informasi kondisi lingkungan melalui layar OLED serta indikator visual dan audio berupa LED dan buzzer untuk memberikan peringatan dini ketika suhu, kualitas udara, atau kondisi lingkungan berada di luar batas kenyamanan yang telah ditentukan.
D. Meningkatkan Edukasi Masyarakat Mengenai Kenyamanan Lingkungan
Memanfaatkan prototype sebagai media edukasi bagi masyarakat Huntara pasca bencana agar lebih memahami pentingnya menjaga kualitas udara, suhu, kelembapan, dan pencahayaan lingkungan guna mendukung kesehatan, kenyamanan, serta kualitas hidup sehari-hari.
E. Mengoptimalkan Pemanfaatan Teknologi Sensor dalam Sistem Monitoring Lingkungan
Mengevaluasi dan mengintegrasikan kinerja sensor DHT11/DHT22, MQ-135, dan LDR dalam satu sistem yang terpadu untuk menghasilkan pemantauan kondisi lingkungan yang akurat, responsif, dan mudah diterapkan sebagai solusi teknologi sederhana di lingkungan Huntara.
3. Alat dan Kompopnen [Kembali]
Gambar 1. Digital Multimeter
Multimeter adalah alat ukur elektronik yang digunakan untuk mengukur berbagai parameter listrik seperti tegangan (volt), arus (ampere), dan resistansi (ohm). Multimeter dapat berbentuk digital maupun analog. Berikut merupakan fungsi dari multimeter:
a. Mengukur Tegangan (Voltage): Multimeter dapat mengukur tegangan listrik dalam rangkaian, baik tegangan searah (DC) maupun tegangan bolak-balik (AC). Rentang pengukuran tegangan biasanya berkisar dari milivolt (mV) hingga ratusan volt (V).
b. Mengukur Arus (Current): Multimeter dapat mengukur aliran arus listrik dalam rangkaian. Multimeter digital dapat mengukur arus DC dan AC dengan rentang dari mikroampere (µA) hingga ampere (A). Untuk mengukur arus, multimeter harus disambungkan secara seri dengan rangkaian.
c. Mengukur Resistansi (Resistance): Multimeter dapat mengukur hambatan dalam komponen atau rangkaian. Satuan resistansi adalah ohm (Ω), dengan rentang pengukuran dari ohm hingga megaohm (MΩ).
d. Pengukuran Tambahan: Beberapa multimeter dilengkapi dengan fitur tambahan seperti pengukuran kapasitansi (farad), frekuensi (hertz), suhu (derajat Celsius atau Fahrenheit), serta tes dioda dan kontinuitas.
Multimeter terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu analog dan digital. Multimeter analog menggunakan jarum yang bergerak pada skala untuk menunjukkan nilai pengukuran. Kelebihannya termasuk kemampuan menunjukkan perubahan cepat dalam sinyal dan tidak memerlukan baterai untuk mengukur tegangan dan arus. Namun, multimeter analog cenderung kurang akurat dan lebih sulit dibaca dibandingkan dengan multimeter digital.
Sebaliknya, multimeter digital menampilkan hasil pengukuran dalam bentuk angka pada layar LCD, menawarkan kemudahan baca dan akurasi yang lebih tinggi. Multimeter digital sering dilengkapi dengan fitur tambahan seperti pengukuran kapasitansi, frekuensi, dan suhu. Meskipun biasanya lebih mahal dan membutuhkan baterai untuk semua jenis pengukuran, multimeter digital menyediakan keunggulan dalam kemudahan penggunaan dan keakuratan. Fitur auto-ranging pada multimeter digital juga menambah kepraktisan, dengan secara otomatis memilih rentang pengukuran yang sesuai, sehingga mengurangi risiko kesalahan pengukuran dan kerusakan alat. Berikut ini merupakan cara menggunakan multimeter:
a. Pilih Mode Pengukuran:
Langkah pertama dalam menggunakan multimeter adalah menentukan jenis pengukuran yang ingin dilakukan. Setel sakelar pada multimeter ke mode pengukuran yang diinginkan, apakah itu tegangan (volt), arus (ampere), atau resistansi (ohm). Pemilihan mode yang tepat sangat penting untuk mendapatkan hasil pengukuran yang akurat dan mencegah kerusakan pada multimeter.
b. Hubungkan Probes:
Setelah mode pengukuran dipilih, langkah berikutnya adalah menghubungkan probe. Sambungkan probe merah ke terminal positif pada multimeter dan probe hitam ke terminal negatif. Kemudian, tempatkan ujung probe pada titik-titik yang akan diukur dalam rangkaian. Pastikan sambungan dilakukan dengan benar untuk menghindari kesalahan pengukuran dan untuk melindungi pengguna dari potensi bahaya listrik.
c. Baca Nilai:
Setelah probes terhubung dengan benar, hasil pengukuran akan ditampilkan pada multimeter. Pada multimeter digital (DMM), nilai pengukuran akan muncul dalam bentuk angka pada layar LCD, yang memberikan pembacaan yang jelas dan akurat. Pada multimeter analog, hasil pengukuran akan ditunjukkan oleh jarum yang bergerak pada skala. Penting untuk membaca nilai dengan cermat dan memastikan jarum atau angka berada dalam rentang yang benar sesuai dengan pengaturan mode pengukuran yang telah dipilih.
3.1.2 Solder
Gambar 2. Solder
Gambar 3. Baterai
Spesifikasi :
Input : AC100-240V 50/60Hz
Output : DC 9V 2A
3.1.4 PCB (Printed Circuit Board)
PCB (Printed Circuit Board) adalah papan sirkuit yang digunakan untuk menghubungkan dan mendukung komponen elektronik secara permanen dalam suatu rangkaian. Berbeda dengan breadboard, PCB dibuat dengan jalur konduktor dari tembaga yang tercetak di atas substrat isolator, biasanya berbahan fiberglass atau resin, sehingga memungkinkan hubungan listrik yang lebih stabil dan presisi. PCB umumnya dibuat menggunakan desain khusus yang disesuaikan dengan fungsi rangkaian, dan dapat memiliki satu lapisan (single layer), dua lapisan (double layer), atau bahkan beberapa lapisan (multilayer) untuk rangkaian yang kompleks. Komponen elektronik seperti resistor, kapasitor, IC, dan konektor dipasang pada papan ini dan disolder untuk menciptakan hubungan listrik yang kuat dan tahan lama. PCB banyak digunakan dalam perangkat elektronik komersial maupun proyek DIY tingkat lanjut karena memberikan keandalan, ketahanan, serta kemampuan untuk diproduksi massal.
Gambar 4. Breadboard
Breadboard adalah perangkat yang digunakan untuk membuat rangkaian elektronik sementara dan prototipe tanpa perlu menyolder komponen. Alat ini terdiri dari papan dengan lubang-lubang kecil yang terhubung secara elektrik, memungkinkan pengguna untuk memasukkan dan menghubungkan komponen seperti resistor, kapasitor, transistor, dan IC dengan mudah. Breadboard memiliki dua bagian utama: bagian tengah yang digunakan untuk menempatkan komponen, dan bagian samping yang biasanya digunakan untuk distribusi daya. Alat ini sangat berguna dalam tahap pengembangan dan pengujian karena memungkinkan modifikasi dan perbaikan rangkaian dengan cepat dan efisien. Breadboard hadir dalam berbagai ukuran, memungkinkan fleksibilitas dalam pembuatan prototipe untuk berbagai proyek elektronik.
3.1.6 Kabel Jumper
Gambar 5. Kabel Jumper
Gambar 6. STM32
DHT11 Sensor adalah sensor digital yang digunakan untuk mengukur suhu dan kelembapan udara secara bersamaan dalam satu perangkat yang ringkas dan mudah digunakan. Sensor ini bekerja dengan memanfaatkan elemen pendeteksi kelembapan berbasis resistif serta termistor NTC untuk mengukur suhu lingkungan. Data hasil pengukuran kemudian diproses oleh mikrokontroler internal yang terdapat di dalam sensor dan dikirimkan dalam bentuk sinyal digital melalui satu jalur komunikasi (single-wire), sehingga memudahkan integrasi dengan berbagai mikrokontroler seperti STM32 Blue Pill, Arduino, maupun ESP32.
DHT11 banyak digunakan dalam aplikasi pemantauan lingkungan, sistem otomasi rumah, stasiun cuaca sederhana, serta berbagai proyek Internet of Things (IoT) yang memerlukan informasi suhu dan kelembapan secara real-time. Sensor ini memiliki keunggulan berupa harga yang ekonomis, konsumsi daya yang rendah, dan kemudahan penggunaan tanpa memerlukan rangkaian tambahan yang kompleks. Namun, dibandingkan dengan sensor yang lebih canggih seperti DHT22 atau SHT31, DHT11 memiliki rentang pengukuran dan tingkat akurasi yang lebih terbatas. Dalam proyek Prototype Sistem Kenyamanan Termal Sebagai Media Edukasi Bagi Masyarakat Huntara Pasca Bencana Berbasis STM32 Blue Pill, sensor DHT11 berfungsi sebagai pendeteksi kondisi suhu dan kelembapan ruangan yang menjadi parameter utama dalam menentukan tingkat kenyamanan termal penghuni Huntara.
Spesifikasi DHT11 Sensor:
• Tegangan operasi : 3,3V – 5V DC
• Arus operasi : 0,3 mA – 2,5 mA
• Rentang pengukuran suhu : 0°C – 50°C
• Akurasi suhu : ±2°C
• Rentang pengukuran kelembapan : 20% RH – 90% RH
• Akurasi kelembapan : ±5% RH
• Resolusi suhu : 1°C
• Resolusi kelembapan : 1% RH
• Frekuensi pembaruan data : 1 Hz (1 kali per detik)
• Interface komunikasi : Single-wire digital signal
• Waktu respon : < 6 detik (kelembapan) dan < 10 detik (suhu)
- Tegangan Operasi (VCC): Standar 5V ± 0.1V DC. Beberapa modul dapat beroperasi pada rentang 2.5V hingga 5.0V
- Tegangan Pemanas (VH): 5V ± 0.1V AC atau DC
- Konsumsi Daya Pemanas (PH): 800mW hingga 950mW
- Resistansi Pemanas (RH): Sekitar 29 ± 3 hingga 33 ± 5% pada suhu ruangan
- Konsumsi Arus: Sekitar 150mA hingga 200mA
- Resistansi Beban (RL): Dapat disesuaikan, umumnya disarankan antara 10k hingga 47k untuk sensitivitas optimal
Sensor LDR (Light Dependent Resistor) adalah komponen elektronik yang nilai resistansinya berubah secara proporsional terhadap intensitas cahaya yang diterimanya. Prinsip kerjanya didasarkan pada sifat semikonduktor yang peka terhadap cahaya; ketika cahaya mengenai permukaan LDR, energi foton diserap oleh material semikonduktor sehingga meningkatkan jumlah pembawa muatan dan menurunkan nilai hambatan listrik. Dalam sistem berbasis mikrokontroler, sensor LDR biasanya digunakan bersama dengan rangkaian pembagi tegangan untuk menghasilkan tegangan analog yang dapat dibaca melalui saluran ADC (Analog-to-Digital Converter).
Sensor LDR banyak digunakan dalam aplikasi yang membutuhkan deteksi tingkat pencahayaan, seperti kontrol lampu otomatis (lighting control), sistem keamanan, pengukuran intensitas cahaya dalam perangkat medis portabel, serta aplikasi IoT seperti smart home dan smart agriculture. Karena sifatnya yang tidak linier dan memiliki respons yang relatif lambat dibandingkan photodiode atau phototransistor, LDR lebih cocok digunakan dalam aplikasi yang tidak memerlukan respon cepat atau akurasi sangat tinggi. konsumsi daya yang rendah dalam berbagai mode operasi membuat mikrokontroler ini ideal untuk aplikasi bertenaga baterai yang menggunakan sensor LDR sebagai elemen input lingkungan.
spesifikasi
Adapun spesifikasi dari LDR adalah:
● Tegangan maksimum (DC): 150V.
● Konsumsi arus maksimum: 100mW.
● Tingkatan Resistansi/Tahanan : 10Ω sampai 100KΩ
● Puncak spektral: 540nm (ukuran gelombang cahaya)
● Waktu Respon Sensor : 20ms – 30ms.
Grafik Sensor
1. Hambatan vs Intensitas Cahaya
Dalam kondisi gelap: Resistansi tinggi (dalam kisaran MΩ ).
Dalam Cahaya Terang: Resistansi rendah (dalam kisaran kΩ atau bahkan ratusan Ω ).
Resistansi menurun seiring dengan peningkatan intensitas cahaya .
2. Respons Spektral
LDR peka terhadap cahaya tampak dan inframerah dekat .
Sensitivitas puncak bergantung pada materialnya:
Kadmium Sulfida (CdS): Puncak sekitar 500-600 nm (cahaya tampak).
Timbal Sulfida (PbS): Puncak sekitar 1.500-3.000 nm (inframerah).
3. Waktu Respons
Waktu respons LDR adalah waktu yang dibutuhkan resistansi untuk berubah ketika terkena cahaya. LDR biasanya memiliki waktu respons yang lambat, berkisar dari milidetik hingga detik, tergantung pada material dan konstruksinya.
Waktu Naik (Gelap ke Terang): Beberapa milidetik hingga detik.
Waktu Peluruhan (Terang ke Gelap): Beberapa detik hingga menit.
4. Ketergantungan Suhu
Resistansi LDR juga dipengaruhi oleh suhu. Sebagian besar LDR memiliki koefisien suhu negatif, artinya resistansinya menurun seiring dengan peningkatan suhu. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan kecil dalam pengukuran cahaya.
5. Sensitivitas terhadap Panjang Gelombang
Sensitivitas LDR adalah ukuran seberapa besar resistansinya berubah dengan intensitas cahaya.
LDR dengan sensitivitas tinggi menunjukkan perubahan resistansi yang besar untuk perubahan intensitas cahaya yang kecil.
Sebagian besar LDR lebih sensitif terhadap cahaya kuning kehijauan (~550 nm) , yang mendekati puncak sensitivitas mata manusia.
6. Efek Histeresis
- LDR tidak langsung kembali ke resistansi semula setelah cahaya dihilangkan
Spesifikasi:
- Interface: I2C (3.3V / 5V logic level)
- Resolusi: 128 x 64
- Sudut Pandang: ±160 derajat
- Warna: Kombinasi Kuning dan Biru
- Power supply: DC 3.3V~5V
Operating temperature: -20°C~70°C
Ukuran LCD/Board: 2.7 x 2.7 cm
3.2.8 Exhaust Fan
Sistem kontrol otomatis untuk exhaust fan berbasis sensor cahaya melibatkan integrasi antara perangkat keras input, pemrosesan data, dan aktuator untuk menciptakan sirkulasi udara yang cerdas. Secara teoritis, sistem ini diawali dengan sensor cahaya (LDR) yang berfungsi sebagai pendeteksi intensitas cahaya di luar ruangan; LDR bekerja dengan mengubah nilai resistansi berdasarkan jumlah foton yang mengenainya, yang kemudian dikonversi menjadi sinyal tegangan melalui rangkaian pembagi tegangan agar dapat dibaca oleh mikrokontroler. Mikrokontroler bertindak sebagai otak sistem dengan melakukan konversi analog-ke-digital (ADC) untuk menerjemahkan tegangan tersebut menjadi nilai numerik, yang kemudian dibandingkan dengan nilai threshold (ambang batas) yang telah ditetapkan melalui kalibrasi. Ketika nilai ADC menunjukkan kondisi "gelap" (melebihi ambang batas), mikrokontroler akan mengirimkan sinyal perintah melalui pin output ke rangkaian driver, seperti transistor atau relay, yang berfungsi sebagai saklar elektronik untuk memutus atau menyambungkan arus listrik bertegangan tinggi yang menggerakkan motor exhaust fan. Exhaust fan itu sendiri kemudian beroperasi berdasarkan prinsip perbedaan tekanan udara, di mana baling-balingnya membuang udara kotor atau panas dari dalam ruangan ke luar, sehingga menciptakan tekanan negatif yang menarik udara segar masuk ke dalam ruangan. Seluruh siklus ini beroperasi secara real-time, memastikan bahwa sistem hanya aktif pada kondisi lingkungan tertentu, sehingga secara efisien menjaga kualitas udara ruangan sekaligus mengoptimalkan konsumsi energi listrik.
Spesifikasi :
Resistance (ohms) : 10K, 500K
Power (Watts) : 0.25W, 1/4W
Tolerance : -+ 5%
Packaging : Bulk
Composition : Carbon Film
Temperature Coefficient : 350 ppm/C
Lead free status : Lead free
RoHS status : RoHS Compliant
Modul step-down XL4005 adalah perangkat elektronik yang berfungsi untuk menurunkan tegangan arus searah dari nilai input yang lebih tinggi menjadi nilai output yang lebih rendah, sesuai kebutuhan. Modul ini didasarkan pada chip XL4005 yang merupakan konverter DC-DC jenis buck (penurun tegangan) yang sangat efisien. Modul ini dilengkapi dengan komponen-komponen pendukung seperti induktor, kapasitor, dan dioda, serta sebuah trimpot (potensiometer variabel) yang memungkinkan pengguna untuk mengatur tegangan output secara presisi. Saat modul ini diberi tegangan input DC (umumnya antara 5V hingga 32V), ia akan mengolahnya untuk menghasilkan tegangan output DC yang dapat diatur dari 0.8V hingga 24V, dengan kapasitas arus hingga 5 Ampere . Modul step-down XL4005 memainkan peran penting dalam berbagai aplikasi elektronik yang membutuhkan penurunan tegangan secara efisien, seperti catu daya untuk mikrokontroler, pengisian daya baterai lithium, power supply untuk perangkat elektronik portabel, atau sebagai regulator tegangan pada sistem tenaga surya.
Spesifikasi module LX4005
- Input tegangan 4.0~32V Output tegangan 0.8~30V adjustable
- Keluaran arus max 5A rekomendasi 4.5A
- Daya keluaran 75W labih dari 50W gunakanlah heatsink
- Evesiensi konversi hingga 96%
- Frekuensi oprasi 180KHz
- Ukuran 44x21 mm
- Suhu oprasi -40 ~ +85
4. Landasan Teori [Kembali]
A. PWM (Pulse Width Modulation)
PWM (Pulse Width Modulation) adalah salah satu teknik modulasi dengan mengubah lebar pulsa (duty cylce) dengan nilai amplitudo dan frekuensi yang tetap. Satu siklus pulsa merupakan kondisi high kemudian berada di zona transisi ke kondisi low. Lebar pulsa PWM berbanding lurus dengan amplitudo sinyal asli yang belum termodulasi. Duty Cycle adalah perbandingan antara waktu ON (lebar pulsa High) dengan perioda. Duty Cycle biasanya dinyatakan dalam bentuk persen (%).
• Duty Cycle = tON / ttotal
B. ADC (Analog to Digital Converter)
- MOSI: Master Output Slave Input artinya jika dikonfigurasi sebagai master maka pin MOSI sebagai output tetapi jika dikonfigurasi sebagai slave maka pin MOSI sebagai input.
- MISO: Master Input Slave Output artinya jika dikonfigurasi sebagai master maka pin MISO sebagai input tetapi jika dikonfigurasi sebagai slave maka pin MISO sebagai output.
- SCLK: Clock jika dikonfigurasi sebagai master maka pin CLK berlaku sebagai output tetapi jika dikonfigurasi sebagai slave maka pin CLK berlaku sebagai input.
- SS/CS: Slave Select / Chip Select adalah jalur master memilih slave mana yang akan dikirimkan data.
FLOWCHART
Prototype Sistem Kenyamanan Termal Sebagai Media Edukasi Bagi Masyarakat Huntara Pasca Bencana Berbasis STM32 Blue Pill bekerja dengan melakukan pemantauan kondisi lingkungan secara otomatis melalui tiga sensor utama, yaitu sensor DHT11/DHT22 untuk mengukur suhu dan kelembapan, sensor MQ-135 untuk memantau kualitas udara, serta sensor LDR untuk mendeteksi intensitas cahaya lingkungan. Seluruh data sensor dibaca dan diproses oleh mikrokontroler STM32 Blue Pill sebagai pusat kendali sistem. Berdasarkan hasil pembacaan tersebut, sistem akan menentukan kondisi lingkungan dan mengaktifkan aktuator yang sesuai untuk menjaga kenyamanan penghuni Huntara.
Pada tahap awal, sistem melakukan inisialisasi seluruh sensor dan perangkat keluaran. Setelah sistem aktif, STM32 secara berkala membaca data suhu dan kelembapan dari sensor DHT11/DHT22, data kualitas udara dari sensor MQ-135, serta data intensitas cahaya dari sensor LDR. Data yang diperoleh kemudian diproses untuk menentukan status kenyamanan lingkungan secara real-time.
Untuk parameter suhu, sistem melakukan klasifikasi kondisi berdasarkan nilai temperatur yang terukur. Jika suhu berada di bawah 30°C, kondisi dianggap sejuk sehingga LED hijau akan menyala sebagai indikator bahwa kondisi ruangan masih nyaman. Apabila suhu berada pada rentang 30°C hingga 34°C, kondisi dikategorikan hangat dan sistem akan menyalakan LED kuning sebagai tanda bahwa suhu mulai meningkat. Ketika suhu melebihi 34°C, kondisi dianggap panas ekstrem sehingga LED merah akan menyala dan buzzer akan aktif sebagai peringatan kepada penghuni. Selain itu, sistem juga mengaktifkan relay yang mengendalikan exhaust fan untuk membantu menurunkan suhu ruangan melalui peningkatan sirkulasi udara.
Selanjutnya, sistem melakukan pemeriksaan terhadap kualitas udara menggunakan sensor MQ-135. Jika konsentrasi gas dan polutan masih berada dalam batas aman, maka udara dikategorikan bersih dan sistem mempertahankan kondisi normal dengan indikator LED hijau. Namun, apabila sensor mendeteksi kualitas udara yang buruk akibat peningkatan konsentrasi asap, gas, atau polutan lainnya, maka kondisi udara dikategorikan sebagai udara pengap atau berasap. Pada kondisi ini, LED merah dan buzzer akan aktif sebagai tanda peringatan, sedangkan relay akan menghidupkan exhaust fan untuk membuang udara kotor dan menggantinya dengan udara yang lebih segar.
Selain memantau suhu dan kualitas udara, sistem juga mengukur intensitas cahaya lingkungan menggunakan sensor LDR. Jika intensitas cahaya berada di atas nilai ambang batas yang telah ditentukan, kondisi dianggap terang atau siang hari. Pada kondisi ini, layar OLED bekerja dengan tingkat kecerahan normal, LED indikator beroperasi seperti biasa, dan pengendalian exhaust fan hanya bergantung pada kondisi suhu dan kualitas udara. Sebaliknya, apabila intensitas cahaya berada di bawah ambang batas yang ditentukan, sistem menganggap kondisi lingkungan sedang gelap atau malam hari. Dalam kondisi tersebut, sistem mengaktifkan mode hemat energi (sleep mode), meredupkan tampilan OLED (OLED dimming), serta mengurangi intensitas pencahayaan LED indikator. Selain itu, sistem juga menyesuaikan parameter kenyamanan dengan menurunkan ambang suhu pengaktifan exhaust fan dari 34°C menjadi 31°C, karena pada malam hari penghuni cenderung lebih sensitif terhadap kondisi panas dan sirkulasi udara.
Setelah seluruh proses pengambilan keputusan dilakukan, STM32 mengendalikan aktuator yang terdiri dari LED indikator, buzzer, relay, dan exhaust fan sesuai kondisi lingkungan yang terdeteksi. Seluruh informasi penting seperti suhu, kelembapan, status kualitas udara, dan intensitas cahaya ditampilkan pada layar OLED sehingga dapat dipantau secara langsung oleh pengguna. Tampilan ini berfungsi sebagai media edukasi yang membantu masyarakat memahami kondisi lingkungan tempat tinggal mereka secara sederhana dan informatif.
Proses tersebut berlangsung secara terus-menerus dalam bentuk siklus monitoring real-time. Sistem akan memperbarui data sensor setiap beberapa detik, melakukan evaluasi ulang terhadap kondisi lingkungan, kemudian menyesuaikan respons aktuator secara otomatis. Dengan mekanisme ini, prototype mampu memberikan pemantauan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus membantu meningkatkan kenyamanan termal masyarakat yang tinggal di Huntara pasca bencana.


Komentar
Posting Komentar